Deni Tri Prasetyo on Facebook
-->

Minggu, 15 April 2012

Jami’ah Al-Qarawiyyin, Universitas Tertua di Dunia.


Jami’ah Al-Qarawiyyin, Universitas Tertua di Dunia.

Pada masa kejayaan Islam, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah saja, namun juga sebagai pusat aktivitas ilmiah. Semenjak kelahiran peradaban Islam, Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya telah menggunakan masjid sebagai tempat pengkajian Al-Quran. Kegiatan intelektual ini kian berlanjut setelah Rasulullah wafat, bahkan terus menyebar ke seluruh kawasan yang telah dikuasai kaum Muslim.
Hal yang sama terjadi di Maroko, tepatnya di Fes. Di kota ini terdapat Masjid Qarawiyyin yang berdiri pada tahun 859 M. Laiknya kebanyakan masjid pada saat itu, masjid yang sering disebut Jami’ah Al-Qarawiyyin ini menjadi pusat pendidikan komunitas Muslim setempat. Kajian ilmiah di masjid ini bahkan setara dengan tingkat perguruan tinggi. Karenanya, pada tahun 1998, The Guinness Book of Record mencatat Jami’ah Al-Qarawiyyin sebagai universitas tertua di dunia yang hingga saat ini masih beroperasi dan terus memberikan gelar kesarjanaan kepada lulusannya.



Walaupun memiliki predikat sebagai universitas tertua, Jami’ah Al-Qarawiyyin bukanlah universitas pertama di dunia. Ensiklopedi Encarta menyematkan gelar perguruan tinggi pertama pada Akademi yang didirikan oleh Plato tahun 387 SM di Yunani. Menyusul setelahnya Lyceum di Athena, Universitas Alexandria di Mesir, Universitas Konstantinopel di Turki, dan Universitas Nalanda di India.
Seiring berjalanannya waktu dan pergantian kekuasaan, universitas-universitas tersebut sudah sejak lama tidak beroperasi lagi. Hal inilah yang menjadikan Jami’ah Al-Qarawiyyin sebagai universitas tertua di dunia dengan umur hampir mencapai 12 abad. Universitas ini lebih tua dari Universitas Al-Azhar di Kairo yang mulai beroperasi pada abad ke-10, bahkan jauh lebih tua dari berbagai universitas pelopor di Eropa seperti Universitas Bologna, Universitas Paris, dan Universitas Oxford yang baru beroperasi antara abad ke-11 dan abad ke-12.

Pendiri Jami’ah Al-Qarawiyyin adalah Fatimah Al-Fihri (? – 880 M), seorang muslimah terpelajar sekaligus putri pengusaha kaya. Keluarga Al-Fihri adalah imigran dari Kota Qairawan, Tunisia yang kemudian menetap di Fes bersama ribuan imigran lainnya. Sepeninggalan ayahnya, Fatimah menghabiskan seluruh harta warisannya untuk mendanai pembangunan masjid yang nantinya akan menjadi pusat ibadah dan pendidikan bagi penduduk Fes.
Arsitektur Moor
Struktur bangunan Masjid Qarawiyyin mengikuti bentuk masjid tradisional bangsa Arab yang pada umumnya terbagi atas dua bagian, yaitu mughatta (aula shalat beratap) dan sahn (halaman terbuka). Pada Masjid Qarawiyyin, bagian mughatta merupakan bangunan hypostyle yang terbentuk dari deretan aisle (barisan tiang yang membentuk sebuah lorong), sedangkan sahn Masjid Qarawiyyin berupa halaman terbuka yang dikelilingi oleh riwaq atau portico (lorong berpilar dan beratap).
Masjid Qarawiyyin yang ada pada saat ini merupakan hasil rekonstruksi dan ekspansi yang dilakukan berkali-kali oleh sejumlah penguasa Muslim. Pada awalnya, Fatimah Al-Fihri membangun masjid ini dengan struktur yang hampir sama dengan Masjid Qairawan di Tunisia. Kala itu, aula masjid atau mughatta hanya terdiri dari empat saf aisle sepanjang 30 meter, sedangkan di sebelah barat aula tersebut dibangun sebuah sahn dan menara.

Menyikapi pertambahan populasi penduduk Fes dan pelajar di Masjid Qarawiyyin, pada 956 M, Pemimpin Zenata merombak dan memperluas masjid. Khalifah Umayyah dari Kordoba, Abdurrahman III (889 – 961), menyumbangkan dana dengan jumlah yang sangat besar untuk membiayai proyek tersebut. Perluasan pertama dilakukan dengan menambah 14 deret aisle di sebelah barat dan timur aula masjid, memindahkan sahn ke bagian yang lebih barat, dan memindahkan menara ke riwaq sebelah utara.
Pada tahun 1135, Pemimpin Al-Murabitun, Ali bin Yusuf (? – 1143), menambahkan tiga deret aisle pada sisi barat masjid. Dalam perluasan kali ini, dibuat juga sebuah nave (aisle pusat) yang memotong kesepuluh deret aisle pada aula utama. Nave ini menghubungkan pintu utama aula dengan mihrab masjid. Perancang nave Masjid Qarawiyyin adalah dua orang arsitek asal Andalusia yang juga merancang nave Masjid Tlemcen di Aljazair.

Ali bin Yusuf memerintahkan arsiteknya untuk membuat sebuah mihrab baru di bagian tengah dinding kiblat. Mihrab masjid ini memiliki corak Kordoba dengan lengkungan tapal kuda dan ornamen khas ijmiz-nya. Serupa dengan mihrab Masjid Kordoba di Spanyol, ijmiz atau ornamen penghias mihrab Masjid Qarawiyyin dihiasi motif floral, geometri, dan kaligrafi kufi khas Andalusia. Sejumlah mimbar kayu untuk keperluan khutbah dan kuliah pun didatangkan langsung dari Kordoba.

Satu lagi perangkat masjid yang didatangkan dari Andalusia adalah lampu gantung (chandelier) pemberian Pemimpin Dinasti Almohad pada 1203. Lampu ini dibuat dari hasil peleburan sebuah lonceng perunggu raksasa yang diambil ketika Pasukan Almohad memenangi peperangan di Gibraltar. Hal-hal tersebut menunjukkan hubungan yang kuat antara kawasan Spanyol (Andalusia) dan Maroko (Maghribi) yang kala itu sama-sama berada di bawah pemerintahan Islam.
Pada abad ke-16, Sultan Dinasti Sa’adi, Abdallah bin Al-Shaikh, turut mempercantik Masjid Qarawiyyin. Beliau membangun dua buah paviliun kembar dan sebuah air mancur (mathara) sebagai tempat berwudu di halaman masjid. Semua lantai halamannya dilapisi zilij (rangkaian ubin khas Maghribi). Banyak ahli yang berpendapat bahwa halaman Masjid Qarawiyyin merupakan representasi dari “Court of The Lions” di Istana Alhambra, Spanyol.

Masjid Qarawiyyin memiliki menara yang sangat khas dengan denah berbentuk bujur sangkar. Berfungsi sebagai tempat adzan dan observatorium astronomi, menara bercat putih ini berdiri menjulang di tengah kota Fes. Walaupun bentuknya sederhana, menara ini adalah cikal bakal menara bergaya Maghribi dan Andalusia yang dibangun setelahnya. Di atas menara terdapat ruangan bernama Darul Muwaqqit yang di dalamnya terdapat jam air Al-Lajai. Jam air tersebut dipakai untuk menghitung waktu shalat. Selain itu, masjid ini pun dilengkapi dengan jam matahari dan jam pasir.
Secara keseluruhan, masjid yang dapat menampung sekitar 22.700 jamaah ini dapat dikategorikan ke dalam bangunan berarsitektur moor. Jenis arsitektur ini adalah perpaduan antara seni Islam Afrika Utara dengan gaya Visigoth dari Semenanjung Iberia. Karakteristik gaya moor yang terdapat pada Masjid Qarawiyyin dapat dilihat dari muqarnas khas Maghribi dan Andalusia bernama mocarabe yang terdapat pada gerbang dan dinding masjid, hiasan pelaster bercorak geometri dan floral pada dinding dan langit-langit, aula hypostyle, penggunaan ubin keramik zilij, bentuk mihrab dan mimbar yang khas, penggunaan mashrabiyya atau maqsura (sekat pemisah dari kayu), serta penggunaan lengkungan tapal kuda, cuping, runcing, dan lambrequin.

Pusat Pengetahuan dan Kebudayaan Islam di Belahan Bumi Barat
Jami’ah Al-Qarawiyyin memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan budaya dan sejarah keilmuan dunia Islam. Sebagai masjid tertua di kawasan Maghribi, Jami’ah Al-Qarawiyyin telah sejak lama menjadi pusat ibadah serta pendidikan bagi masyarakat setempat. Tidak hanya itu, Qarawiyyin pun menjadi magnet bagi para pencari ilmu dari berbagai negeri.
Pada awalnya aktivitas ilmiah yang ada di masjid ini hanya membahas tentang ilmu tafsir, fiqih, dan hadis. Namun, seketika muncul beberapa kajian lain seperti linguistik, sastra, filsafat, politik, matematika, astronomi, ekonomi, seni rupa, dan musik. Pada abad ke-10, sebelum universitas tertua di Eropa lahir, ilmu kedokteran dan farmasi sudah diajarkan di Jami’ah Al-Qarawiyyin. Menyusul setelahnya kajian sosiologi, geografi, sejarah, arsitektur, teknik, psikologi, dan berbagai cabang ilmu alam lainnya. Dengan tetap mengikuti aturan pihak universitas, pelajar di Qarawiyyin diberikan kebebasan untuk mengambil studi apapun yang diminatinya. Dengan demikian, lahirlah sarjana-sarjana polymath yang menguasai lebih dari satu bidang ilmu.

Praktek kuliah di Masjid Qarawiyyin menggunakan sistem halaqah. Dalam sistem ini, pengajar dan pelajar duduk melingkar di lantai masjid. Pelajar pria dan wanita kuliah dalam tempat terpisah. Mimbar-mimbar masjid sering digunakan pengajar dan ilmuwan tamu untuk memberikan materi pada saat seminar atau kuliah dengan jumlah peserta yang banyak. Terdapat puluhan halaqah yang menyebar di berbagai sudut Masjid Qarawiyyin, sesuai dengan mata kuliah dan jadwalnya. Universitas Qarawiyyin pun sering mengirimkan sejumlah ilmuwannya untuk mentransfer ilmu pengetahuan ke berbagai universitas di dunia, seperti Universitas Bologna, Universitas Sankore, Universitas Al-Azhar, dan Universitas Granada.
Ketika jumlah pelajar di Universitas Qarawiyyin kian bertambah, pihak universitas akhirnya melakukan seleksi yang sangat ketat dalam menerima mahasiswa baru. Calon mahasiswa harus menguasai Al-Quran, bahasa Arab, dan ilmu-ilmu umum dari madrasah tingkat dasar. Selain itu, untuk mengatasi kepadatan ruang, beberapa halaqah dipindahkan ke sejumlah madrasah di sekitar masjid, seperti Madrasah Mesbahia, Madrasah Attarin, Madrasah Seffarin, Madrasah Fes El Jedid, dan Madrasah Bou Inania.
Aktivitas ilmiah di universitas tertua ini tidak dapat terlepas dari peran Perpustakaan Qarawiyyin yang berada di sebelah timur masjid. Bahan-bahan kuliah selalu diambil dari perpustakaan ini. Tidak hanya digunakan oleh pihak universitas saja, berbagai madrasah di sekitar Masjid Qarawiyyin pun ikut mempergunakan perpustakaan tersebut. Hingga kini, Perpustakaan Qarawiyyin merupakan salah satu yang terbesar di antara tiga puluhan perpustakaan yang ada di Kota Tua Fes.

Universitas Qarawiyyin telah melahirkan sejumlah ilmuwan Muslim yang telah memberikan kontribusi besar pada dunia pengetahuan, di antaranya adalah; ahli geografi dan pembuat peta, Muhammad Al-Idrisi (1099 – 1166); penjelajah, penulis, serta ahli hadis, Ibnu Rashid Al-Sabti (1259 – 1321); geografer, Al-Wazzan Al Fasi atau Leo Africanus (1494 – 1554); ahli teologi dan filsafat, Ibnu Al-Arabi (1076 – 1184); sastrawan, sejarawan, ahli filsafat, dan dokter, Ibnu Al-Khatib (1313 – 11374); astronom, Al-Bitruji atau Alpetragius (? – 1204); dan ahli sejarah, ekonomi, teologi, matematika, filsafat, hukum, astronomi, militer, kesehatan, dan sosiologi, Ibnu Khaldun (1332 – 1406).

ISESCO (Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization) dalam tulisannya yang bertajuk “Fes: Capital of Islamic Culture” mengemukakan, sejumlah ilmuwan besar Muslim asal Andalusia sempat mengajar di Qarawiyyin, di antaranya; ahli astronomi, fisika, psikologi, musik, botani, dan kedokteran, Ibnu Bajjah atau Avempace (1095 – 1138); ahli ilmu kedokteran dan farmasi, Ibnu Zuhr atau Avenzoar (1091 – 1161); dan ahli filsafat, teologi, psikologi, politik, musik, kedokteran, astronomi, geografi, fisika, matematika, dan teknik, Ibnu Rushid atau Averroes (1126 – 1198).

Jami’ah Al-Qarawiyyin yang menjelma menjadi sebuah universitas yang paling terkemuka di abad pertengahan membuatnya tidak hanya diminati oleh para pelajar Muslim, namun juga oleh pelajar non-Muslim. Ahli filsafat dan agama Yahudi ternama, Rabbi Moshe ben Maimon (1135 – 1204) yang dijuluki oleh para penganut Yahudi sebagai “Nabi Musa kedua” adalah lulusan Universitas Qarawiyyin. Nicolas Cleynaerts (1495 – 1542) dan Jacob Golius (1596 – 1667) tercatat pernah belajar tata bahasa Arab di universitas ini. Golius bahkan telah menerjemahkan buku astronomi karya Al-Farghani dan buku kedokteran karya Ibnu Baklarech lalu mempublikasikannya ke Eropa. Gerbert ‘d Aurillac (946 – 1003) yang kemudian menjadi Paus Sylverster II belajar matematika dan astronomi di Qarawiyyin. Beliaulah mempekenalkan sistem numeral Arab ke Eropa.

Kini, Universitas Qarawiyyin dibagi menjadi sejumlah fakultas yang tersebar di empat kota besar, di antaranya Fes, Agadir, Tetouan, dan Marrakech. Jami’ah Al-Qarawiyyin yang telah beroperasi sejak 12 abad lalu hingga sekarang tidak pernah lelah menjadi pusat ilmu bagi para pelajar dari berbagai negeri.

Perang Salib

alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5731704728087880354" />

Perang Salib



Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang besar Islam.

Perang Salib
Perang keagamaan antara umat Kristen Eropa dan umat Islam Asia selama hampir dua abad (1096-1291) dikenal dengan nama Perang Salib. Perang itu terjadi sebagai reaksi umat Kristen terhadap umat Islam.

Sejak tahun 632, sejumlah kota penting dan tempat suci umat Kristen dikuasai oleh umat Islam. Akibatnya, umat Kristen merasa terganggu ketika hendak berziarah ke kota suci Yerusalem. Umat Kristen tentu saja ingin merebut kembali kota itu. Perang itu disebut Perang Salib karena pasukan Kristen menggunakan tanda salib sebagai simbol pemersatu dan untuk menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci.

Faktor utama penyebab terjadinya Perang Salib adalah agama, politik dan sosial ekonomi. Faktor agama, sejak Dinasti Seljuk merebut Baitulmakdis dari tangan Dinasti Fatimiah pada tahun 1070, pihak Kristen merasa tidak bebas lagi menunaikan ibadah ke sana. Hal ini disebabkan karena para penguasa Seljuk menetapkan sejumlah peraturan yang dianggap mempersulit mereka yang hendak melaksanakan ibadah ke Baitulmakdis. Bahkan mereka yang pulang berjiarah sering mengelu karena mendapatkan perlakuan jelek oleh orang-orang Seljuk yang fanatik. Umat Kristen merasa perlakuan para penguasa Dinasti Seljuk sangat berbeda dengan para penguasa Islam lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya.

Faktor politik, dipicu oleh kekalahan Bizantium --sejak 330 disebut Konstantinopel (Istambul)-- di Manzikart (Malazkirt atau Malasyird, Armenia) pada tahun 1071 dan jatuhnya Asia Kecil ke bawah kekuasaan Seljuk terlah mendorong Kaisai Alexius I Comnenus (Kaisar Constantinopel) untuk meminta bantuan kepada Paus Urbanus dalam usahanya untuk mengembalikan kekuasaannya di daerah-daerah pendudukan Dinasti Seljuk.

Di lain pihak, kondisi kekuasaan Islam pada waktu itu sedang melemah, sehingga orang-orang Kristen Eropa berani untuk ikut mengambil bagian dalam Perang Salib. Ketika itu Dinasti Seljuk di Asia Kecil sedang mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiah di Mesir dalam keadaan lumpuh, sementara kekuasaan Islam di Spanyol semakin goyah. Situasi semakin bertambah parah karena adanya pertentangan segitiga antara khalifah Fatimiah di Mesir, khalifah Abbasiyah di Baghdad dan amir Umayyah di Cordoba yang memproklamirkan dirinya sebagai penguasa Kristen di Eropa untuk merebut satu persatu daerah-daerah kekuasaan Islam, seperti Dinasti-dinasti kecil di Edessa dan Baitulmakdis.

Sementara faktor sosial ekonomi dipicu oleh pedagang-pedagang besar yang berada di pantai timur Laut Tengah, terutama yang berada di kota Venezia, Genoa dan Pisa, . Kristen eropa berambisi untuk menguasai sejumlah kota-kota dagang di sepanjang pantai Timur dan selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu mereka rela menanggung sebagian dana perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai pusat perdagangan mereka apabila pihak Kristen Eropa memperoleh kemenangan.

Sejarawan Philip K Hitti penulis buku The History of The Arabs membagi Perang Salib ke dalam tiga periode. Periode pertama disebut periode penaklukkan daerah-daerah kekuasaan Islam. pasukan Salib yang dipimpin oleh Godfrey of Bouillon mengorganisir strategi perang dengan rapih. Mereke berhasil menduduki kota suci Palestina (Yerusalem) tanggal 7 Juni 1099. Pasukan Salib ini melakukan pembantaian besar-besaran selama lebih kurang satu minggu terhadap umat Islam tanpa membedakan laki-laki dan perempuan, anak-anak dan dewasa, serta tua dan muda. Kemenangan pasukan Salib dalam periode ini telah mengubah peta dunia Islam dan situasi di kawasan itu.

Periode kedua, disebut periode reksi umat Islam (1144-1192). Jatuhnya daerah kekuasaan Islam ke tangan kaum Salib membangkitkan kesadaran kaum Muslimin untuk menghimpun kekuatan guna menghadapi mereka. Di bawah komando Imaduddin Zangi, gubernur Mosul, kaum Muslimin bergerak maju membendung serangan kaum Salib. Bahkan mereka berhasil merebut kembali Allepo dan Edessa. Keberhasilan kaum muslimin meraih berbagai kemenangan, terutama setelah muculnya Salahuddin Yusuf al-Ayyubi (Saladin) di Mesir yang berhasil membebaskan Baitulmakdis (Jerusalem) pada 2 Oktober 1187.

Periode ketiga, berlangsung tahun 1193 hingga 1291 ini lebih dikenal dengan periode kehancuran di dalam pasukan Salib. Hal ini disebabkan karena periode ini lebih disemanganti oleh ambisi politik untuk memperoleh kekuasaan dan sesuatu yang bersifat material dari pada motivasi agama.

Kesultanan Buton (Kesultanan yang terlupakan di Indonesia)

Buton - Pulau Buton. Nama yang selalu dihubungkan dengan pertambangan aspal alam. Tak banyak yang tahu, di pulau ini ada satu kesultanan, yang berperan mengisi sejarah Indonesia.



Di kota Bau-Bau inilah komplek Kesultanan Buton berada. Terletak di puncak bukit dan menghadap ke Selat Buton. Penduduk setempat menyebutnya keraton. Aura kemegahannya masih terasa nyata.

Dari arah laut, tiang bendera setinggi dua puluh satu meter, adalah tanda pertama yang akan terlihat oleh kapal yang datang. Tiang megah dari kayu jati ini didirikan tahun 1712 tepat dihalaman depan benteng. Seolah memberi isyarat, anda sedang memasuki wilayah kota raja. Di tiang ini juga pernah dikibarkan bendera kerajaan Belanda, Jepang sebelum akhirnya dikibarkan sang merah putih.Kerajaan Buton diperkirakan berdiri pada abad empat belas, dua abad kemudian berubah menjadi kesultanan. Kompleks keraton dikelilingi oleh benteng sepanjang dua ribu tujuh ratus empat puluh meter. Benteng ini dibangun dalam kurun waktu lima puluh tahun, melampaui tiga masa sultan yang berbeda.

Benteng berbentuk huruf 'dal' dalam aksara Arab, disusun dari batu kapur dan pasir. Benteng ini dilengkapi dua belas pintu masuk dan enam belas kubu pertahanan. Banyaknya meriam yang ditempatkan di tiap sisi benteng, menunjukkan masa Kesultanan Buton tidaklah mudah. Ada musuh, ada tamu asing, dan juga ada kerajaan tetangga, yang setiap saat datang sebagai lawan.

Disisi tebing yang sekaligus pembatas benteng bagian belakang, terdapat sebuah ceruk. Letaknya tepat di bawah tanah keraton. Gua ini menjadi tempat persembunyian Arupalaka, Raja Bone, saat melarikan diri dari kejaran tentara Sultan Hasanudin dari Kerajaan Gowa. Berkat sumpah Sultan Buton yang menyatakan Arupalaka tidak berada di atas tanah Buton, maka selamatlah Raja Bone itu. Konon Arupalaka masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan petinggi Kesultanan Buton.



Kesederhanaan ini seperti cermin dari iklim demokrasi yang telah tercipta di Kesultanan Buton, jauh sebelum Indonesia lahir. Meski ada tiga golongan yang berbeda tugas, Sultan Buton tidak selalu diangkat dari keturunan sebelumnya, melainkan tergantung pada rapat anggota dewan legislatif yang berada di tangan golongan Walaka. Beberapa sultan konon dicopot dan dihukum karena di nilai melakukan pelanggaran.

Nuansa Islami amat lekat dengan Kesultanan Buton. Ddalam setiap pengangkatan sultan baru, ada sejumlah ritual yang telah menjadi tradisi. Ada sebuah batu berbentuk tonggak tempat menyimpan air, yang akan dipakai mandi sang calon sultan, sebelum diambil sumpahnya di Masjid Agung dalam kompleks keraton. Sehabis diambil sumpahnya, sang sultan baru dibawa ke batu pengangkatan. Diatas batu yang menyerupai alat kelamin perempuan ini, sang sultan di upacarai seolah-olah baru terlahir kembali. Bentuk batu ini mengingatkan pada lingga yoni, dalam konsep ajaran Hindu.

Pengaruh Islam masuk ke Buton secara resmi pada tahun 948 hijriah, dibawa oleh Syeikh Abdul Wahid bin Sulaiman. Syeikh ini berasal dari Semenanjung Tanah Melayu. Namun baru dua abad kemudian Masjid Agung keraton dibangun. Untuk mendirikan masjid ini konon menghabiskan tiga ratus tiga belas potongan kayu, yang sama jumlahnya dengan potongan tulang-tulang tubuh manusia.

Pengaruh demokrasi dalam sistem kesultanan, juga berlaku pada anggota pengurus Masjid Agung, yang berjumlah lima puluh enam orang. Namanya Sarakidina. Mereka datang dari keturunan bangsawan maupun rakyat jelata. Tugas mereka terdiri dari satu orang lakina agama, satu orang imam, empat orang khatib, sepuluh orang moji dan empat puluh orang anggotanya.

Sayangnya denyut nadi kehidupan dan budaya masyarakat Buton yang begitu elok, seperti terisolasi dari pengetahuan nasional. Ceritanya hanya bergaung lewat artikel-artikel sederhana dalam koran. Padahal, dengan sedikit polesan tangan terampil, Pulau Buton bisa menjadi surga wisata.(Idh)

Kamis, 26 Januari 2012

Viking History


Bangsa Viking adalah suku bangsa dari Skandinavia yang berprofesi sebagai pedagang, peladang, dan paling terkenal sebagai perompak (seringkali setelah gagal berniaga) yang di antara tahun 800 dan 1050 menjarah, menduduki dan berdagang sepanjang pesisir, sungai dan pulau di Eropa dan pesisir timur laut Amerika Utara, serta bagian timur Eropa sampai ke Rusia dan Konstantinopel.

Mereka memanggil diri mereka sebagai Norsemen (orang utara), sedangkan sumber-sumber utama Russia dan Bizantium menyebut mereka dengan nama Varangian. Sampai sekarang orang Skandinavia modern masih merujuk kepada diri mereka sebagai nordbor (penduduk utara).

Leif Eriksson, yang dalam saga Islandia dikatakan keturunan para pemimpin Viking Norwegia yang mendirikan perkampungan Eropa pertama di Greenland sekitar tahun 985, kemungkinan besar adalah orang Eropa pertama yang menemukan Amerika sekitar tahun 1000. Perkampungan yang didirikannya kemungkinan besar adalah di L'Anse aux Meadows, yaitu di Newfoundland dan Labrador, Kanada.

Istilah Abad Viking telah dipakai untuk menyebut periode sejarah Skandinavia dari tahun 800 sampai 1066, yaitu sampai pada kematian dari Harald III Sigurdsson.

Sebutan Viking secara luas dapat pula digunakan untuk menyebut seluruh populasi Skandinavia di Abad Viking beserta perkampungan-perkampungan sebarannya. Sebagai contoh, para pedagang dan perompak di masa tersebut yang berasal dari pantai timur Laut Baltik dalam saga Islandia mula-mula disebut sebagai Vikinger fra Estland, atau dalam bahasa Norwegia ialah Viking Estonia.

Bangsa Viking menyisir pantai barat laut Eropa dalam kapal panjang untuk mencari dan membawa barang rampasan yang sangat berharga. Masyarakat pada masa itu pada umumnya sangat takut dengan serangan kilat dan kebrutalan Bangsa Viking, sebuah doa dari masa itu berbunyi "Selamatkan kami Tuhan, dari kemarahan Norsemen (Bangsa Viking). Mereka kerap memporakporandakan tanah kami. Mereka memebunuh anak-anak dan wanita kami" Para Viking membanggakan diri atas keberanian mereka saat berperang, sebagian besar berperang dengan berjalan kaki dan membawa pedang, tombak, serta kapak.

Sedangkanpara petingginya menggunakan kuda perang. Pasukan "pengejut" yang disebut berserker memimpin serangan. Berserker adalah bangsa Norse dengan ciri khas 'tanpa mengenakan baju perang besi' dengan tampang yang bengis dan tubuh yang kekar, serta sifatnya yang brutal. Sebelum berperang, mereka menjadi gila bertempur dengan mabuk dan narkotika serta mempercayakan pada Dewa mereka, Odin, agar mereka tetap selamat.

Kata Viking dipakai ahir-ahir ini saja, masyarakat pada waktu itu menyebut mereka Norsemen. Kata tersebut mungkin berasal dari Vik, sebuah Kota pusat perompak di Norwegia .Ketika para Norsemen pergi 'sebagai seorang Viking', berarti mereka bertarung sebagai seorang perompak. Bangsa Viking Swedia yang menetap di Eropa Timur mungkin disebut sebagai Runs, dan jadilah Rusia sebagai nama mereka. Namun,tidak semua Bangsa Viking perompak,di tanah airnya, mereka adalah petani dan nelayan, pedangan dan perajin. Banyak diantara mereka pergi bersama perompak dan hidup di Prancis utara, Inggris Utara, dan Irlandia. Kerap kali mereka menyerang Inggris dan Irlandia, lalu menjarah hingga ke Gibraltar dan Mediterania.

Di Eropa Timur, kapal Bangsa Viking membawa mereka sampai ke pedalaman dan menyusuri berbagai sungai. Mereka bertualang sangat jauh sampai kedaerah Rusia dan Ukraina, kadang-kadang merampok menyisir konstantinopel, yang sering disebut Miklagard / Kota Besar. Sedangkan para Viking yang tinggal di Perancis Utara disebut Bangsa Norman.

Raja mereka yang terkenal adalah William Sang Penakluk, yang menduduki Inggris di tahun 1066. Para Viking umumnya merupakan pelaut ulung dan tangguh, kapal-kapal kayu mereka yang disebut kapal panjang merupakan sebuah kontruksi kapal laut yang sangat kokoh, ringan dan mempunyai bagian bawah datar yang memungkinkan untuk berlayar di sungai yang dangkal dan juga diperairan terbuka

Rabu, 29 Juni 2011

History of Samurai



Asal muasal kaum SAMURAI adalah pada wangsa (keluarga) Yamato, yang merupakan klan terkuat di Jepang hingga abad ketujuh Masehi. Istilah samurai, berasal dari kata kerja bahasa Jepang saburau yang berarti ’melayani’. Pada pada awalnya istilah mengacu kepada “seseorang yang mengabdi kepada bangsawan”. Yang dinamakan samurai hanya mereka yang lahir di keluarga terhormat dan ditugaskan untuk menjaga anggota keluarga kekaisaran.
Selanjutnya keluarga Yamato kesulitan mempertahankan sentralisasi negara dan mulai mendelegasikan tugas militer, administrasi, dan penarikan pajak pada mantan pesaing yang befungsi sebagai gubernur. Yamato dan kekaisaran makin melemah, sedangkan gubernur lokal makin kuat. Beberapa di antara mereka berevolusi menjadi daimyo atau penguasa feodal yang menguasai teritori tertentu dan independen dari pemerintahan pusat.

Periode tersebut disebut masa Heian (749-1185) yaitu ketika Jepang terpisah dalam beberapa provinsi yang dipimpin oleh gubernur (daimyo) yang langsung didatangkan dari ibukota kekaisaran Heiankyo (Kyoto). Para daimyo umumnya adalah pangeran yang memiliki pasukan pengawal. Pengawal inilah yang dikenal sebagai samurai. Istilah lain yang mengacu kepada samurai yakni bushi yang berarti “orang yang dipersenjatai/kaum militer”.

Para daimyo makin mandiri dan secara perlahan meningkatkan anggota pasukan samurai mereka, dan menyiapkan klan keluarga masing-masing sebagai penguasa turun-temurun. Pada periode tersebut pasukan samurai yang mereka miliki berkembang menjadi kelompok ksatria profesional yang juga menjadi profesi turun-temurun.

Pada awal abad ke 12 para gubernur provinsi (daimyo) yang lebih kuat dan kaya mulai bersaing untuk meraih kekuasaan. Pada tahun 1185 Minamoto no Yoritomo seorang panglima perang dari provinsi timur berhasil mengalahkan daimyo lainnya dan secara resmi menunjuk dirinya sebagai shogun yang berarti diktator militer. Mulaiah berlaku sistem feodal dengan pemerintahan militer (Bakufu) atas provinsi-provinsi.
Selanjutnya penguasa militer datang silih berganti. Namun, sejak saat itu, semua shogun, daimyo, beserta pasukan samurai mereka menjadi salah satu kelompok masyarakat yang paling hebat di Jepang dan mereka menguasai negara hingga 1867 (selama hampir 700 tahun). Seiring berjalannya waktu, semua anggota kelas penguasa, mulai dari shogun hingga ksatria yang paling rendah kastanya secara umum disebut sebagai samurai.

Pada tahun 1400, jumlah anggota kelompok samurai di Jepang mencapai angka 10 persen dari seluruh populasi masyarakat. Karena tidak ada masa peperangan, para samurai mulai merambah ke berbagai aspek budaya. Para samurai menggabungkan latihan keras dalam seni perang dengan studi ilmu klasik China seperti sastra, puisi, kaligrafi, seni lukis, dan seni keramik. Semakin tinggi derajat samurai termasuk shogun, maka semakin penting pula pelajaran tersebut baginya.

Keadaan aman tanpa perang berlangsung hingga 1467 sebelum akhirnya pemerintahan shogun melemah dan para daimyo mulai berusaha mengambil alih kekuasaan tertinggi.
Periode berikutnya dikenal dengan periode Senoku –yang berarti periode perang- berlangsung selama 101 tahun. Pada masa itu serangkaian pertempuran dan peperangan hebat terjadi di kalangan daimyo untuk saling menguasai.

Selama periode perang tersebut keahlian luar biasa dalam seni olah pedang serta senjata lain menjadi sebuah keharusan bagi para samurai. Setiap shogun dan daimyo di seluruh jepang membentuk dojo atau sekolah beladiri yang dipimpin oleh para master atau pendekar pedang. Perang antar klan ini menimbulkan kekacauan dan kehancuran. Tak terhitung banyaknya warisan seni dan budaya yang dihancrkan seperti kuil, bangunan kuno, perpustakaan yang hancur dan hilang lenyap.

ERA Tokugawa Ieyashu



Masa berikutnya Jepang berhasil disatukan sehingga mencapai masa perdamaian oleh tiga panglima perang yaitu: Oda Nobunaga (1534-1582), Toyotomi Hideyoshi (1536-1598), dan Tokugawa Ieyashu (1542-1616). Setelah satu abad lebih mengalami kekacauan, masa damai itu berdampak pada kemakmuran ekonomi dan perkembangan seni dan budaya yang terus meningkat. Arsitektur benteng menjadi marak, minat baru terhadap sastra dan puisi serta lukisan bermunculan. Upacara minum teh mencapai puncaknya, dunia keramik terus merambah bidang baru. Sedangkan ilmu bela diri pun terus berkembang.

Pada masa pemerintahan Tokugawa diberlakukan kebijakan pengasingan nasional. Semua orang Jepang dilarang meninggalakan negara secara permanen dan menolak semua orang asing mengunjungi Jepang. Jepang benar-benar terisolasi dari dunia internasional. Kebijakan ini menjadi faktor paling penting dan menyebabkan panjangnya masa pemerintahan Tokugawa hingga mencapai 250 tahun.

Pada masa Tokugawa, samurai menduduki posisi sekaligus memiliki hak-hak istimewa. Bersama dengan kelurga, samurai ini berjumlah sekitar 7-10% populasi nasional. Mereka diberi hak istimewa dan jaminan sosial yang lebih tinggi serta upah tetap yang turun temurun. Hal itu berdasarkan undang-undang yang ditetapkan Hideyoshi dan dilanjutkan oleh Tokugawa.

Karena tidak terlibat perang, samurai pada masa Tokugawa menggunakan waktu luang mereka untuk mendapat derajat pendidikan yang tidak dikenal di masa dahulu. Selama periode ini, para samurai yang sudah mendalami berbagai disiplin ilmu lain di luar seni perang, secara kolektif mulai menuliskan ciri-ciri ideal seorang samurai yang dikenal dengan Bushido atau Jalan Ksatria.

Inti bushido pada era Tokugawa adalah keyakinan bahwa samurai harus memiliki kesetiaan mutlak pada tuan/pimpinan mereka dan memiliki standar moral tinggi untuk semua tindakan dalam kehidupannya.

Kode etik Bushido mengendalikan setiap aspek kehidupan para samurai. Petunjuk utama para samurai dalam hukum tersebut adalah mereka harus mengembangkan keahlian olah pedang dan berbagai senjata lain, berpakaian dan berperilaku secara khusus, dan mempersiapkan kematian yang bisa terjadi sewaktu-waktu ketika melayani tuannya.
Bushido kemudian membentuk karakter dan perilaku masyarakat Jepang secara umum dengan cara tertentu, hingga mencapai tingkatan yang belum pernah diraih sebelumnya. Para Samurai mengajari anak-anak selama 250 tahun.

Kedatangan Laksamana Matthew Perry dengan armadanya dari Amerika di tahun 1853 yang memaksa Jepang membuka pintunya bagi perdagangan Amerika, mengakhiri masa isolasi masyarakat Jepang yang telah berlangsung selama 250 tahun.

ERA MEIJI



Saat itu Tokugawa sadar bahwa tidak bisa mempersatukan dan membangun Jepang hanya dengan pedang dan tradisi yang kaku, maka kekuasaan diserahkan kepada Meiji.
Sistem feodal kuno dan kelas samurai dihapuskan secara resmi. Meiji memerintahkan para samurai untuk menyarungkan semua katananya dan diganti dengan pena, teknologi, undang-undang, dan ilmu pengetahuan. Saat itu dua juta Samurai dikembalikan ke masyarakat, mereka belajar bahkan pergi ke Amerika. Mereka juga menterjemahkan berbagai buku asing. Dengan semangat Bushido, mereka membangun Jepang.

Bushido tetap menjadi pedoman masyarakat Jepang, mereka rela mati demi negara atau Kaisar. Pada masa perang dunia kedua, tentara Jepang menggunakan bushido sebagai wujud rela mati demi Kekaisaran dengan menjadi pasukan berani mati (kamikazee). Abad ke 20 ini Jepang mulai mengembangkan diri menjadi negara industri maju. Kemajuan Jepang tidak lepas dari latar belakang tertanamnya Bushido dalam diri Samurai.

Kamis, 03 Maret 2011

Manusia Kerdil Purbakala dari Flores, Indonesia.


Dahulu kala, banyak jenis makhluk seperti manusia hidup di atas bumi. Jenis manusia berbeda yang berjalan tegak lurus dan mempunyai otak yang cerdas. Pada di beberapa titik, jenis itu nyaris punah. Kita, manusia sekarang, spesies Homo sapiens (H. sapiens), adalah yang masih bertahan sampai sekarang.

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan mereka memikirkan kapan H. sapiens menjadi satu-satunya jenis manusia yang ada/eksis. Para ilmuwan memikirkan perubahan besar terjadi sekitar 24.000 tahun yang lalu, dengan kepunahan Neandertals (Homo neanderthalensis).

Pada tahun 2003, para ilmuwan telah menemukan bukti spesies manusia yang belum ditemukan sebelumnya. Para ilmuwan menemukannya di pulau Flores di Indonesia.

Jenis yang ditemukan itu disebut Homo floresiensis sesuai dengan nama pulau tempat di temukan dan dijuluki “kurcaci” (manusia kerdil/hobbit) karena ukurannya yang kecil, yang hidup kurang lebih 12.000 tahun yang lalu. Banyak ilmuwan menganggap kurcaci ini sebagai penemuan yang paling penting di dalam ilmu anthropologi dalam 50 tahun terakhir.

“Penemuan di Flores menunjukkan, bahwa selama ribuan tahun, bukan hanya kita saja jenis manusia yang ada,” kata Bert Roberts, seorang peneliti senior di Universitas Wollongong di Australia. “ Sampai pada beberapa waktu terakhir ini, di sana ada jenis manusia lain berjalan, berbicara, saling berinteraksi, yang berlari di seputaran planet,” ia menambahkan. Roberts adalah seorang anggota tim penemu H. floresiensis itu.

Tanda-tanda pertama keberadaan kurcaci itu muncul pada 2001, ketika sebuah tim peneliti dari Australia dan Indonesia awalnya menemukan gigi dan tulang-tulang kecil di Flores. Para illmuwan itu sedang melihat-lihat fosil-fosil H. sapiens pada waktu itu.

Pada mulanya, para ilmuwan tidak mencurigai apapun, mereka berpikir fosil-fosil kecil adalah H. sapiens anak-anak.

Lalu, di hari terakhir masa penggalian pada Bulan September 2003, seorang peneliti Indonesia yang bernama Thomas Sutikna tiba-tiba menemukan sebuah tengkorak di dalam tanah. Untuk melindungi fosil, ia menggali seluruh blok pasir yang mengelilingi nya.

“Saat ia mulai menyingkap pasir yang mengubur tengkorak itu, team kami mulai menyadari bahwa ia telah menemukan bukti utuh satu spesies manusia baru, ujar Robert. Tengkorak lebih dapat mengungkap lebih banyak tentang jenis dibandingkan tulang-tulang lain, tengkorak ini adalah sangat menentukan. “Hal ini benar-benar sesuatu yang komplit, benar-benar baru.”

Tengkorak yang kecil terlihat berbeda dengan beberapa tengkorak spesies Homo apapun yang pernah ditemukan. Ia mempunyai sebuah dahi garis miring dan alis mata tebal. Mempunyai dagu yang mundur. Volume otaknya hanya seperempat dari besar otak manusia modern.

Penggalian-penggalian lebih lanjut mengungkapkan bahwa rangka manusia kerdil ini berbeda dari H. sapiens. Tengkorak dan tulang-tulang yang ditemukan berasal dari seorang wanita berusia sekitar 30 tahun dan setinggi anak berusia 4 tahun manusia sekarang. Kakinya pendek dan lebar. Dan dia mempunyai lengan yang panjang, yang bisa mencapai lututnya.

Berbagai hal mereka sebagian mirip para nenek moyang kita di masa dulu yang hidup pada 2 atau 3 juta tahun yang lalu, kata Chris Turney, seorang peneliti dari Universitas Wollongong yang terlibat setelah penemuan. Maka ia mengira fosil-fosil baru itu juga berusia sangat tua.

Namun kenyataannya berbeda, Turney menganalisa usia dari rangka fosil menunjukan bahwa tulang-tulang hanya berusia 18.000 tahun! Kurcaci itu adalah sebuah jenis manusia yang sepenuhnya baru. Apakah banyak para ilmuwan yang belum pernah melihatnya yang hidup baru-baru ini. Itu adalah penemuan yang sangat besar.

“Saya berjalan bagaikan terbang,” kata Turney. “Saya berjalan berkeliling dengan senyum yang besar sepanjang hari.”
Perdebatan Besar

Para ilmuwan mengumumkan penemuan mereka pada 2004. beberapa ahli antropologi, seperti Turner, dibuat kagum oleh berita tersebut. Tetapi para kritikus dengan cepat memperdebatkan penemuan ini. Mereka mengklaim bahwa rangka yang baru bukan jenis baru. Itu hanyalah seorang anggota spesies seperti kita dari sebuah penyakit microcephaly. Antara gejala-gejala dan kelainan yang lain, orang-orang microcephaly lebih kecil dibanding kepala dan tubuh.

Perdebatan masih berlanjut. Sementara itu, penggalian lebih lanjut pada batu pulau-pulau itu menemukan tulang-tulang dari delapan orang kurcaci lain dengan struktur tulang yang sama. Peneliti mengungkapkan bahwa individu ini hidup antara 95.000 dan 12.000 tahun yang lalu, memperkuat alasan para ilmuwan yang telah menemukan sebuah spesies baru. Roberts berkata, Tidak mungkin seluruh populasi di pulau itu menderita microcephaly pada saat yang bersamaan.

Kebanyakan para ilmuwan sekarang percaya pada H. floresiensis yang berbeda dengan jenis dari H. sapiens, Roberts berkata. “Saya katakan 99,5 persen (dari para ilmuwan) menyetujuinya, ujarnya.

Tetapi tidak setiap orang yakin. Penemuan-penemuan seperti ini bertentangan dengan teori-teori tentang evolusi (padahal teori evolusi juga masih diperdebatkan kebenarannya). Penemuan dari H. floresiensis, sebagai contoh, menentang pandangan bahwa H. sapiens menggantikan semua jenis manusia yang ada karena menyebar di seluruh dunia. Penemuan ini membuktikan bahwa ternyata H.sapiens dan H.floresiensis yang tersebar di dunia selama beberapa puluh ribu tahun terakhir.

Karena ricuhnya argumentasi-argumentasi antara para peneliti, penggalian-penggalian lebih lanjut, yang bisa menjawab banyak pertanyaan-pertanyaan tentang kurcaci, berhenti pada 2004. namun sekarang, ahli antropologi itu telah siap untuk mengambil sekop-sekop mereka kembali.

Harapan para peneliti untuk menemukan lebih banyak rangka tulang dengan fitur serupa dengan itu H. floresiensis, seperti contoh DNA, yang diperlukan “Ini untuk mengatasi perselisihan kali ini dan terakhir,” Roberts berkata. Lebih banyak fosil-fosil yang akan memberikan lebih banyak secara detail mengenai kehidupan kurcaci-kurcaci itu.

Bukti sampai saat ini menyatakan bahwa kurcaci itu pandai, meskipun otak-otak mereka kecil. Eksplorasi-eksplorasi lokasi-lokasi di mana tulang-tulang itu ditemukan menunjukkan kurcaci-kurcaci menggunakan perkakas dari batu. Mereka berburu komodo dan gajah kecil. Mereka bisa menembak. Dan mereka menemukan sebuah cara untuk bepergian ke Flores, mungkin dari daratan Asia, milik mereka sendiri.

Meskipun antusias dari Roberts dan yang lainnya, ilmuwan masih tidak bisa membuktikan bahwa H. sapiens dan H. floresiensis bertahan hidup di Flores pada waktu yang bersamaan. Hanya dengan banyak menggali, dan studi-studi tambahan tentang tulang-tulang, akan menjawab pertanyaan ini. (Science News/snd)

Kamis, 09 Desember 2010

SEJARAH BANGSA JAWA di BENUA AMERIKA SELATAN




##Negara Suriname##

Republik Suriname (Surinam) adalah sebuah negara di Amerika Selatan dan merupakan bekas jajahan Belanda. Negara ini berbatasan dengan Guyana Perancis di timur dan Guyana di barat. Di selatan berbatasan dengan Brasil dan di utara dengan Samudra Atlantik. Suriname ini disebut sebagai "Indonesia Sebelah Barat".

##
Sejarah Singkat Negara
##

Wilayah Suriname mulai dikenal luas sejak abad ke 15, yaitu ketika bangsa-bangsa imperialis Eropa berlomba menguasai Guyana, suatu dataran luas yang terletak di antara Samudera Atlantik, Sungai Amazon, Rio Negro, Sungai Cassiquiare dan Sungai Orinoco. Semula dataran ini oleh para ahli kartografi diberi nama Guyana Karibania (Guyana yang berarti dataran luas yang dialiri oleh banyak sungai dan Karibania dari kata Caribs yaitu nama penduduk asli yang pertama kali mendiami dataran tersebut).

Dalam suatu cerita fiktif “El Dorado”, Guyana digambarkan sebagai suatu wilayah yang kaya akan kandungan emas. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa cerita fiktif tersebut merupakan salah satu faktor yang mendorong orang-orang Eropa untuk bersaing menguasai Guyana.

Pada tahun 1449 pelaut Spanyol, Alonzo de Ojeda dan Juan de la Cosa berlayar menyusuri pantai timur laut Amerika Selatan, yang saat itu mereka sebut Wild Coast, dan mendarat di wilayah Guyana. Vincent Juan Pinzon kemudian menguasai Guyana atas nama Raja Spanyol. Selama abad ke-16 dan ke-17, Guyana dikuasai silih berganti oleh Spanyol, Belanda, Inggris, Perancis dan Portugal.

Pada tahun 1530 Belanda mendirikan pusat perdagangan pertama di dataran tersebut. Pada tahun 1593 raja Spanyol mengambil alih dan menguasai Guyana hingga tahun 1595, yaitu ketika para bangsawan Inggris datang dan mulai mengusai daerah-daerah pantai. Sementara itu, Belanda mulai mengembangkan perdagangannya secara bertahap di daerah pedalaman. Daerah Guyana sepenuhnya jatuh ke tangan Inggris sejak tahun 1630 hingga tahun 1639.

##Sejarah Orang Jawa di Suriname##

Adanya orang Jawa di Suriname ini tak dapat dilepaskan dari adanya perkebunan-perkebunan yang dibuka di sana. Karena tak diperbolehkannya perbudakan di sana, dan orang-orang keturunan Afrika dibebaskan dari perbudakan. Di akhir 1800an Belanda mulai mendatangkan para kuli kontrak asal Jawa, India dan Tiongkok. Orang Jawa awalnya ditempatkan di Suriname tahun 1880-an dan dipekerjakan di perkebunan gula dan kayu yang banyak di daerah Suriname.

Orang Jawa tiba di Suriname dengan banyak cara, namun banyak yang dipaksa atau diculik dari desa-desa. Tak hanya orang Jawa yang dibawa, namun juga ada orang-orang Madura, Sunda, Batak, dan daerah lain yang keturunannya menjadi orang Jawa semua di sana.

Orang Jawa menyebar di Suriname, sehingga ada desa bernama Tamanredjo dan Tamansari. Ada pula yang berkumpul di Marienburg. Orang Jawa Suriname sesungguhnya tetap ada kerabat di Tanah Jawa walau hidupnya jauh terpisah samudra, itu sebabnya Bahasa Jawa tetap lestari di daerah Suriname. Mengetahui Indonesia sudah 'merdeka', banyak orang Jawa yang berpunya kembali ke Indonesia, namun hanya sedikit orang-orang yang bisa kembali, itu saja malahan di tanah Sumatra dan daerah-daerah Indonesia lainnya. Kemudian, di tahun 1975 saat Suriname merdeka dari Belanda, orang-orang yang termasuk orang Jawa diberi pilihan, tetap di Suriname atau ikut pindah ke Belanda. Banyak orang Jawa akhirnya pindah ke Belanda, dan lainnya tetap di Suriname. Rata-rata orang Jawa Suriname beragama Islam, walau ada sedikit yang beragama lain.

Yang unik dari orang Jawa Suriname ini, dilarang menikah dengan anak cucu orang sekapal atau satu kerabat. Jadi orang sekapal yang dibawa ke Suriname itu sudah dianggap bersaudara dan anak cucunya dilarang saling menikah.
Orang Jawa Suriname berjumlah sampai 15% penduduk Suriname.



##Bahasa Jawa sebagai Salah Satu Bahasa Resmi Negara Suriname##

Bahasa Jawa Suriname merupakan ragam atau dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Suriname dan oleh komunitas Jawa Suriname di Belanda. Jumlah penuturnya kurang lebih ada 65.000 jiwa di Suriname dan 30.000 jiwa di Belanda. Orang Jawa Suriname merupakan keturunan kuli kontrak yang didatangkan dari Tanah Jawa dan sekitarnya.Di Suriname hanya terdapat 1 dialek Jawa. Namun, adanya varian-varian kata menunjukkan bahwa di masa lalu para migran Jawa menuturkan sejumlah dialek yang berbeda.Di Suriname juga pernah ada penutur bahasa Banyumasan (ngapak-ngapak). Sayangnya, bahasa ini dianggap tidak baik dan penuturnya sering dihina. Akibatnya, keturunan mereka tak lagi mempelajari dan menuturkan bahasa Banyumasan.

Kosakata bahasa Jawa di Suriname banyak dipengaruhi oleh bahasa Belanda dan Sranan Tongo. Meskipun demikian, kedua bahasa tersebut tak mempengaruhi fonologi dan tata bahasa.Kata-kata Sranan Tongo yang sudah diserap malah ada yang memiliki bentuk bahasa krama.Fonologi bahasa Jawa di Suriname tak berbeda dengan bahasa Jawa baku di Tanah Jawa. Fonologi Dialek Kedu yang menjadi leluhur bahasa Jawa Suriname tak berbeda dengan bahasa Jawa baku.Dalam bahasa Jawa Suriname, terdapat juga basa krama (bahasa halus), namun tak lagi serupa dengan bahasa Jawa di Jawa. Bahkan generasi mudanya sudah banyak yang tak bisa menuturkan basa krama.

Terdapat 3 ragam bahasa Jawa di Suriname, yakni ngoko, krama dan krama napis. Krama di Jawa adalah madya dan krama napis adalah krama dan krama inggil.